Hai, selamat malam.
Boleh tanya?
Sebutan apa yang kamu gunakan untuk memanggil sosok laki-laki dewasa yang pertama kali memperlihatkan bahagianya saat kelahiranmu, yang pertama kali berkata dengan bangga "dia anakku" di hadapan setiap orang.
Kalau aku memanggilnya Bapak,
Apapun sebutanmu terhadapnya, pernahkah kamu mengungkapkan sayang?
Kalau aku tidak, bukan karena tidak sayang. Tapi karena gengsi, walaupun bapak sendiri.
Kalau Bapak baca ini, putri yang selalu kecil dimatamu mau tanya banyak hal.
Tentang bagaimana menjadi dirimu?
Bagaimana menjadi sosok yang kepulangannya selalu dirindukan? Terutama saat kau membawa tentengan sepulang kerja.
Bagaimana rasanya ketika kau hendak berangkat kerja, lalu kami anakmu berkata "Bapak, hati-hati di jalan ya. Pulangnya bawa oleh-oleh"
Saat kecil, yang ku tahu hanya meminta. Lalu saat dewasa dan berada di posisimu, baru terasa, ternyata begitu berat.
Bagaimana bisa, saat lelahmu masih sempat mendengarkan kami menceritakan kekesalan kami tentang teman, atau pelajaran yang sulit. Sementara, lelahmu tiada duanya.
Bagaimana caranya menyediakan pundak bagi kami bersandar, sementara pundakmu sudah sangat lelah dan hampir patah.
Bagaimana caranya memenuhi setiap keinginan kami, yang baru kami sadari begitu egois "ini itu harus ada".
Bagaimana caranya ikhlas untuk segala keadaan?
Bagaimana bisa, untuk segala perjuangan mampu terbayar hanya dengan "melihat anaknya sukses" tanpa tahu apakah suatu saat nanti sang anak akan mampu membalas budi atau tidak.
Tidakkah terbesit sedikitpun dalam benakmu, bahwa anakmu mungkin akan jadi anak durhaka? mungkin akan lupa denganmu sebab terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.
Bapak
Maaf jika kami tak seperti saat kecil yang selalu menunggu kepulanganmu, lalu "rebutan" untuk berbagi cerita keseharian kami, sekarang kami sibuk berbagi cerita dengan teman, atau bahkan sekedar membuka lalu menutup aplikasi di handphone dan tanpa sadar mengabaikanmu
Bapak
Maaf, jika kami jarang menanyakan kabar seperti saat kecil, yang suka "iseng" sekedar pergi ke telpon umum untuk menelpon kantormu, sekedar menanyakan "Bapak lagi ngapain? Pulang jam berapa?"
Setelah kehilangan kakek, dan ua. Kami tak ingin kehilangan siapapun lagi. Kehilangan mereka, sedihnya masih sangat membekas, bagaimana jika kehilanganmu. Jangan pergi ya, karena kami takkan pernah siap.
Bapak, udah dulu ya soalnya ngantuk.
Sekarang kami sedikit tahu diri karena tubuh kami tidak sekecil dulu, saat Bapak menggendong kami yang tidak sengaja tidur di ruang tamu, lalu bangun dalam keadaan bingung kenapa tiba-tiba sudah ada di kamar.
Semoga bahagia dan sehat selalu
Tertanda,
Anakmu yang sudah tidak kecil lagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar