Minggu, 22 September 2019

Memulai kembali

Nyatanya kita tak bisa saling menahan rindu
Ada sakit yang sama kita rasakan
Bertemu adalah obatnya
Sebab cerita kita belum selesai
Tuhan mungkin saja belum menakdirkan kita untuk bersama dalam satu ikatan
Air matamu tak berbohong
Jantung itu masih berdetak seperti sedia kala, lebih cepat dari biasanya
seperti saat itu.

Bicaramu membuatku sedikit tenang
Membuatku tak takut untuk kembali melangkah bersama
Yang kemarin adalah kesalah pahaman
Bodohnya aku mempercayai apa yang terlihat tanpa penjelasan

Kemarin adalah awal
Kembalinya "kita" yang sempat terpisah takdir
Terima kasih untuk ramahmu
Kita akan jadi seseorang yang lebih menghargai rasa
Memulai kembali, memang sulit tapi tak ada yang tidak mungkin
Lagi, kamu meyakinkan raguku
Mengembalikan percayaku walau tak seutuh dulu



Kamis, 05 September 2019

Yang Kita Tunggu

"yaaaaang, jangan lupa maketnya, skripsinya, kemejanya, celananya juga di gantung dulu, siapin semuanya, jangan sampai ada yang kurang" ucap Dara melalui telfon kepada Ian kekasihnya "Ia baweeeeel" sahut Ian "APAAAAAAA? tanya Dara dengan nada teriak "eh iya sayaaaaaang, lagian sih kamu bawel banget, kan kemarin kamu udah ingetin aku, kamu juga yang siapin ini itu, aku yakin ngga ada yang kurang, makasih yang, aku sayang kamu" jawab Ian menenangkan Dara. " oh jadi ngga mau aku bawelin? jadi gitu, aku kan begini karena peduli, tapi yaudah kalo kamu ngga mau diperhatiin, aku mah ...." ucap Dara terputus "Aku mah apa atuh, di dengerin syukur, ngga yaudah.  itu kan yang mau kamu bilang? kan kamu mulai lagi ngambeknya besok aku sidang nih, kamu kan tau sendiri apa yang terjadi sama aku kalo kamu ngambek, kamu mau aku ...." sambung Ian "udah ngga usah diterusin, ia tau yaudah kamu tidur gih udah malem" jawab Dara. "Besok kamu mau aku jemput jam berapa?" tanya Ian "ngga usah yang, aku naik gojek aja, kamu kan harus persiapan" jawab Dara. 

Keesokan harinya Ian dan Dara bertemu di kampus, terlihat Dara berdandan cantik menemui Ian, Ian pun menghampiri Dara dengan wajah berseri, "yang, kamu pakai dasinya gimana sih?" tanya Dara sambil membetulkan dasi Ian. "Yaaaa namanya juga buru-buru yang, jadi ngga beres. Coba kita udah satu rumah, pasti kan kamu bisa rapihin dasi aku" Jawab Ian "hus, sabar yang, sebentar lagi  hehe. Kita kan masih nabung" sahut Dara dengan bibir tersenyum mengadap Ian. 

Tak terasa waktu sidang akan segera dimulai, tiap-tiap mahasiswa memasuki ruang persidangan, Ian pun demikian, sebelum masuk Ian memegang erat tangan Dara "Yang, doain aku ya" ucap Ian. Dara membalasnya dengan senyum dan perlahan melepas tangan Ian dan masuk ke ruangan.
Dara setia menunggu Ian didepan ruang sidang dengan dada yang berdebar, serta bibir yang tak hentinya berdoa untuk kelancaran sidang sang kekasih. 

Tak terasa, satu persatu mahasiswa keluar dari ruangan dan memancarkan wajah sumringah , namun tidak dengan Ian, ada banyak tanya yang terucap dari benak Dara "Ada apa dengan dia? kenapa tidak tersenyum seperti yang lain? mungkinkah Ianku...? ah tidak, dia lelaki cerdas yang ku tahu, apakah dia hanya mengerjaiku saja? atau dia , ah aku tidak ingin berfikir macam-macam" Dara segera berlari dan menghapiri Ian. 

"Yang, gimana sidangnya? lancar ngga?" tanya Dara. Ian hanya menggelengkan kepala "apa? kenapa? yaaaang jawab" tanya Dara kembali. "Setidaknya aku udah usaha yang, tapi kalau akhirnya begini aku pasrah" jawab Ian "gapapa yang, kamu lebih semangat lagi ya, aku pasti bantuin kamu" jawab Dara menyemangati " Makasih yang, yuk kita makan-makan" ajak Ian "kamu gimana sih, ngga lulus tapi malah ngajak makan" sahut Dara "siapa yang bilang aku ngga lulus?" tanya Ian "Kamu barusan" jawab Dara dengan wajah heran "emang ada kalimat aku yang bilang kalo aku ngga lulus" jawab  Ian sambil tersenyum "tadi kamu bilaaaaaangggggg" jawab Dara dengan wajah memerah "hahahaha dasar kamu ya, masih aja gengsi padahal salah tanggep. lagian nih yang, ngga ada sejarahnya seorang Ian itu gagal dalam pendidikan" Ujar Ian dengan nada sombong "halah, terus itu tumpukan almamater siapa dirumah kamu?" jawab Dara "punya temenku yaaaang, yaudah ah ayo makan. aku laper nih. eh iya, kamu ngga ,mau foto dulu sama aku? mumpung ganteng nih, walaupun biasanya lebih ganteng sih hahaha" sahut Ian dengan penuh percaya diri. " apasiiiihhhhh kepedean hahaha, yaudah yuk foto" jawab Dara.

setelah mereka berfoto dengan penuh bahagia, Ian pun segera mengajak Dara untuk makan siang dan membicarakan banyak hal termasuk pernikahan. "yang, makasih banyak ya, kamu udah nuntun aku sampai di titik ini" ucap Ian. "iya yang, lagian juga semua karena semangat kamu. aku cuma jadi tim hore aja" jawab  Dara. mereka saling menatap dan tersenyum penuh cinta. "apasih liat-liat, alayyyyy hahahha" ucap Dara memecah kemesraan "ngeselinnya mulai kan" jawab Ian "yang aku laper beneran, dari tadi pagi nanungguin kamu selesai sidang" jaawab dara "aku juga, emang kamu doang hmmmm" sahut Ian merekapun makan denga lahap sambil berbincang panjang.

Tak terasa waktu semakin larut, Ian mengantar Dara pulang. dan untuk kali ini Dara memintanya untuk mengantar hanya sampai ujung jalan. Dara berbalik memandang Ian tersenyum penuh arti. "Aku sayang kamu, sampai kapanpun" ucap Ian pada Dara. "Aku juga, berjodoh atau tidak perasaanku takkan berubah" sahut Dara "yang kenapa ngomongnya gitu?" tanya Ian, Dara berbalik dan pergi. Ian menatap Dara yang semakin menjauh sampai tak terlihat. 

"Ini yang terakhir rupanya, maaf untuk segala hal sayang " ucap Ian sambil tertunduk, meneteskan air mata.


Saat orang lain menunggu waktu untuk sebuah pertemuan, tapi kita menunggu sebuah perpisahan. menyudahi semua, menghapus rasa sampai tak tersisa.
sungguh ini menyiksa batinku dan juga batinmu
tapi nyatanya Tuhan tidak berkehendak atas rasa kita


Kata Dya "Ngga apa-apa mama"

Sedang di titik selalu sedih dan merasa bersalah  Pada sulungku yang selalu mengatakan "gapapa mama" Semakin tidak apa-apa, perasa...