Sabtu, 23 Maret 2019

Langit Jogja

Kadang kala,  orang yang paling kau sayang adalah dia yang memberimu luka paling dalam. Beberapa kali aku pernah mendengar dan membaca kalimat itu.  Ya!  Kalimat terbaik yang menggambarkan kehidupan nyata. 

"Tenanglah,  aku baik-baik saja" kalimat terakhir pada buku diary Sekar yang tak sengaja ku baca.  Kalimat yang selalu diungkapkannya padaku,  terutama saat jelas ku lihat raut wajahnya yang menggambarkan kesedihan,  dialah Sekar yang selalu berkata baik-baik saja,  sementara nyatanya tidak.

Malam ini,  Sekar sedang tertidur sangat pulas dan membuatku leluasa membaca buku diarynya, hampir setiap hari kami saling menginap dirumah satu sama lain secara bergantian,  dan malam ini giliranku menginap dirumah sekar,  dan sedikit berbeda, karena akhirnya aku bisa membaca buku diary yang selama ini dirahasiakannya dariku.

Sekar memang sangat suka menulis,  tulisannya pun bagus,  tak kalah dengan penulis novel profesional.  Di dalam buku diarynya,  dia menulis banyak puisi dan beberapa quote,  aku hampir menyukai semua tulisannya.  Oh ya,  aku lupa mengenalkan diriku,  perkenalkan namaku Gendis,  gadis asli Yogyakarta yang lahir 24 tahun yang lalu,  aku seumuran dengan Sekar. Aku dan Sekar sering menghabiskan waktu bersama,  sebab rumah kami berdekatan dan orang tua kami saling mengenal.  Mungkin bisa dibilang kami sudah seperti saudara.

Halaman demi halaman buku diary sekar ku baca,  dia menuliskan banyak hal selain puisi dan quotes,  dia menuliskan kejadian demi kejadian beserta perasaan setiap harinya,  banyak hal yang dia tuliskan tentang keseharian kami,  karena kami selalu menjalani hari demi hari bersama.  Kejadian lucu,  marah, kecewa,  sedih dan semua hal yang menguras emosi.  Tak terasa malam semakin larut,  aku sudah mulai mengantuk, namun diriku dibuat penasaran ketika aku membuka lembaran yang menuliskan tentang "dia" , sosok laki-laki yang sampai saat ini membuatku tak pernah lupa akan kesalahannya terhadap sahabatku Sekar. 

Pada halaman pertama yang menuliskan tentang "dia", Sekar memberi judul "Alun-alun Kidul".

Alun-alun kidul
Dear kamu,  buku diary kesayanganku.  Kemarin,  mas minta aku cuti dari kantor karena dia sedang libur. Mas bilang mau nurutin maunya aku untuk ke pantai,  tapi akhirnya kami gagal, karena laut sedang tidak bersahabat.  Gantinya,  kami berkeliling kota jogja seharian,  sampai pada waktu malam mas mengajakku ke alun-alun kidul untuk makan,  berhubung aku sangat lapar,  aku memesan banyak makanan hahaha,  mas sampai heran dan mengelus kepalaku.  Namun,  aku sedikit kecewa, saat kubaca isi wa pada handphone mas,  dari nomor yang dia tidak save.  Dari ketikannya kurasa dia perempuan,  chat mereka begitu mesra tapi tidak banyak , dan sepertinya sudah mas hapus. Aku cemburu,  marah,  kesal dan kecewa,  tapi aku diam saja,  ku fikir karena mas masih menghargaiku,  sebab ia tidak gamblang mengatakannya,  dan ku anggap dia masih menjaga perasaanku.  Atau mungkin mas memang sedang khilaf. Tapi aku yakin,  khilafnya mas hanya sementara.  dan aku tidak boleh egois bukan? 

Aku ingat hari itu,  Sekar bercerita tentang hal ini padaku,  tetapi dia tidak mengatakan tentang chat itu.  Dia hanya mengatakan bahwa dia bahagia pergi bersamanya. lagi dan lagi lembar demi lembar ku buka, aku menemukan halaman dengan judul "Ketep pass" 

Ketep Pass
Dear buku diary kesayanganku, hari ini aku dan mas memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang menurut mas aku akan suka, namanya ketep pass, benar saja tempatnya begitu indah dan aku sangat menyukainya. gunung merapi terlihat sangat gagah dari sini, betapa aku sangat bersyukur dilahirkan di bumi Indonesia. kau tau diary? hari ini aku resah, sedih dan kecewa lagi, sebab ku dapati sikap mas yang sedikit berubah dan chat pada whatsappnya lagi-lagi dari nomor yang sama. hatiku mulai goyah, ingin marah tetapi aku sayang mas. aku merasa bahwa mungkin ada yang salah pada diriku, sehingga mas coba mencari wanita lain untuk menutupi kurangnya aku. tapi diary, mas masih mempertahankan aku, dan tidak meninggalkanku. mas masih baik, mugkin saja mas masih khilaf ^_^ tugassku hanya bersabar saja. tidak sesulit mas yang sedang berusaha mempertahankan aku, ya... aku akan berusaha bertahan demi mas.

ya Tuhan, apa yang terjadi dengan sahabatku ini? terbuat dari apa hatinya? dia masih terus berfikir positif mengenai laki-laki yang berulang kali menyakitinya. 

Aku yang malam itu masih duduk disamping Sekar yang masih tertidur sangat pulas, hanya mampu melihat wajahnya penuh iba. "bagaimana bisa?" pikirku. rasanya aku ingin menyudahi membaca buku ini, karena menurutku membacanya hanya membuatku sakit. tapi mungkin sakit yang aku rasakan tidak sebanding dengan sakit yang sudah Sekar rasakan selama ini. 

Halaman demi halaman masih ku baca dia menceritakan banyak hal yang ia lakukan bersama "dia" Sekar begitu polos menuliskan bahagianya, lalu diselingi sedihnya, lalu kalimat yang menunjukkan bahwa ia berfikir positif lagi, semakin lama rasanya semakin sesak dan sakit. bagaimana bisa dia menahan semua ini sendirian. Sampaiku menemukan sebuah halaman yang aku mampu merasakan emosi luar biasa ketika ia menulis itu Sekar menulis judulnya adalah "waktu"

Waktu
Hari ini, aku bertemu dia. wanita itu, kami bicara banyak hal termasuk tentang kalian. dia bilang dia sayang mas dengan tulus, dia juga bilang kalo dia ngga bisa kehilangan mas, tapi setelah dia kenal aku dia bilang dia rela menyudahi hubungan kalian yang terjalin dibelakang aku. Mas, ini toh yang namanya selingkuh? dan ternyata diselingkuhin itu ko sakit ya mas?
Mas, dia minta maaf sama aku, dia janji akan ninggalin mas. Tapi mas, aku lihat matanya begitu tulus sayang sama mas, pasti jadi dia rasanya nda enak toh mas. 
mas, dari isi whatsapp yang aku baca, sepertinya mas juga cinta dia. Mas, aku mundur ya...
mas sama dia aja, 
Mas, bukannya aku ngga sayang mas, aku tuh sayaaang banget sama mas. Mas adalah sosok laki-laki yang sangat aku harapkan, tapi isi chat itu menyadarkan aku mas. 
rasanya seperti aku harus tahu diri, 
aku cuma tembok penghalang
sore tadi mas tanya sama aku "apa ngga ada perasaan aku mau bertahan sama mas dan mulai semuanya dari awal lagi?" mas juga minta maaf toh? mas nyesel sudah khilaf, mas juga janji ngga akan ulangi lagi" 
maafin aku mas, tapi aku ngga bisa. aku terlalu takut untuk mulai semuanya dari awal, aku taku mas khilaf lagi, aku takut mas menjalin hubungan dengan dia lagi, aku takut di bohongi lagi.
mas, maaf aku jadi berprasangka buruk, tapi akau ngga mau punya prasangka buruk terus, lebih baik aku ikhlasin mas sama dia. walaupun jujur rasanya sakit sekali mas. 
mas tau aku sulit jatuh cinta, tapi aku lebih sulit menerima pengkhianatan. 
aku sayang sayang mas, sampai nanti Tuhan menkdirkan aku untuk mencintai yang lain. selamat berbahagia mas, sekarang sudah tidak ada tembok lagi yang menghalangi kalian. 

Aku ingat ini, saat itu Sekar mengatakan bahwa dia putus dengan "dia" lalu aku tanya alasannya, Sekar bilang bahwa sudah tidak ada kecocokan. bagaimana bisa aku tidak tahu yang sebenarnya, bagaimana bisa ia menyalahkan diri sendiri atas kesalahan yang orang lain buat? bagaimana bisa dia terlihat baik-baik saja sementara nyatanya nihil, saat berulang kali aku bertanya "kamu kenapa sekar?" dia selalu bilang "aku tidak apa-apa" sambil tersenyum seraya memberi bukti bahwa dia memang baik-baik saja.

Tak terasa waktu sudah subuh, itu berarti aku tidak tidur semalaman ini, namun Sekar masih tertidur dengan lelapnya. pada lembar sebelum akhir, dia menuliskan...

Aku bahagia menjadi bagian dari Jogja
karena Jogja, aku mengenalnya dan bahagia di buatnya
aku tahu setiap manusia pasti pernah melakukan khilaf, juga aku
Tuhan memberi luka, agar kita tahu bagaimana rasanya sakit, lalu memaafkan setelahnya
Kini, aku sudah tak bersamamu, tapi rasa sayangku masih juga belum hilang
biarlah... mungkin butuh waktu
Aku selalu suka melihat langit Jogja
karena setiap melihatnya, aku hanya ingat bahagia bersamamu tanpa luka
aku tak pernah menyesal mengenal dan mencintaimu
karena dengan mencintaimu, aku belajar tentang ikhlas melepaskan
dan karena cinta tak harus bersama
kenanglah aku, sebagai hal indah yang pernah ada dalam hidupmu

Air mataku tumpah membacanya,hatimu luar biasa sahabatku. Maaf aku telah lancang membaca diarymu. tapi mungkin karena ini sudah saatnya. Sahabatku, bolehkan aku yang menyimpan bukumu untuk selamanya?

Waktu menunjukkan pukul 07.00. Semua orang sudah bangun dan telah bersiap, kini giliran Sekar yang mandi, setelah itu kami akan mengantar Sekar ke tempat perisirahatan terakhirnya. ya... Sekar telah berpulang. Bersama ribuan kisah dalam hidupnya, dan yang terakhir tentang "dia".

-TAMAT-

Jumat, 08 Maret 2019

Awal Untuk Akhir

assalamualikum...
selamat malam sayang
izinkan terakhir kalinya aku memanggilmu sayang sebelum kau benar-benar menjadi milik orang lain 😊
maaf, aku lancang menulis tentangmu tapi aku janji, ini yang pertama dan terakhir kali. sebab aku sedang sangat rindu, dan bayangmu berhasil membuatku tak bisa tidur malam tadi 😔 kamu menyebalkan, seperti malam-malam sebelumnya saat kau berhasil membuatku tak bisa tidur sebab menunggu kabar atau saat kau berhasil membuatku penasaran...

sayang... maaf lagi-lagi aku memanggilmu sayang hehe, aku janji hanya malam ini dan tidak untuk malam-malam selanjutnya.

izinkan aku dalam diamku menuliskan tentang awal kita memulai hubungan, yang kita pernah pikir sangat mudah jalannya, dan kita pernah berharap bersama agar dipermudah menuju halal, hehe maaf aku masih sangat ingat itu.

terima kasih banyak, sebab kamu mampu mencairkan dinding es yang beku antara aku dan mamaku saat itu, aku suka tegasmu menasihatiku, kamu berhasil mencairkan egoku yang keterlaluan.

kamu ingat? tempat kita makan pertama kali, di warung pecel lele daerah Cijantung. saat itu kita sama-sama belum ada perasaan satu sama lain. hubungan saat itu hanyalah profesional antara seorang Muzakki dengan Anggota badan penyalur zakat (diriku), berawal dari itu kamu terus rajin membayar zakat melalui aku hehe. kemudian, beberapa kali kamu mulai mengomentari setiap status whatsappku. entahlah, saat itu kamu sudah punya rasa atau belum denganku, tapi jujur aku belum ada.

setelah beberapa lama kebiasaan tetap berjalan demikian, kita saling bercerita tentang orang terdekat kita masing-masing, betapa galau dan marahnya aku pada sosok laki-laki yang kau kenal, dan inginnya kamu lepas dari wanita yang menyukaimu. lalu kau meminta bantuanku untuk membuat pendahuluan proposal skripsimu,dan entah bantuan apalagi.sampai akhirnya aku meminta satu bantuan padamu, yaitu menemaniku ke pernikahan teman kampusku, sebab saat itu aku sudah lulus kuliah dan sulit mencari teman unntuk pergi ke undangan hehe. kau tahu sayang? temanku yang sedang menikah bertanya "neng itu calonnya?" ku bilang bukan dan kau hanya teman. sebab jujur, saat itu pun aku masih belum ada rasa padamu. oh ya, kau ingat sayang? sepulangnya dari undangan, karena rasa tak enak hati aku memintamu menurunkanku di depan roti bakar 88 Lenteng Agung, sementara kau menawarkanku untuk mengantar sampai rumah.

lambat laun, percakapan whatsapp kita semakin intens. dan aku masih juga belum ada rasa padamu, mungkin sebab kamu adalah orang terdekat sahabatku saat itu, dan aku tak mau hancurkan apapun.

sayang... bagiku kamu cukup genit untuk sosok lelaki pediam dan sebab takkan pernah ada percakapan sebelum kau whatsapp aku duluan. kamu memulai dan aku selalu membuka topik baru percakapan, kerjasama kita cukup bagus dalam komunikasi dan tak pernah garing hehe.

sampai tiba saatnya sayang, kamu mengajakku bertemu sepupumu. pertama kali, di central park. jika boleh jujur, rasanya biasa saja saat kau mengajakku sebab aku sudah terbiasa menemani teman laki-lakiku bertemu saudaranya, namun aku memiliki sedikit rasa heran kenapa harus aku yang kau ajak? kenapa tidak wanita yang suka padamu saja yang diajak? ah sudahlah... kau sudah jelaskan siang itu.
siang itu, hujan sangat deras ya sayang, aku resah karena belum shalat dzuhur, lalu kau menemukan masjid untuk kita shalat, seusainya kita masih perlu menunggu hujan reda. setelah reda, kita melanjutkan perjalanan.
ini bagian lucunya, maaf jika aku sempat berfikir negatif tentangmu hari itu. ku fikir kau akan menculikku, karena beberapa faktor, mulai dari gerak-gerikmu yang mencurigakan, menelfon lalu tidak nyambung, membawaku semakin jauh, tempat pertemuan yang terus berpindah, hahahaha dan pikirku alasan kau mengajakku yang kita saja baru saling mengenal adalah untuk menculikku, hahahaha terlalu ceroboh aku berfikir demikian.

dan sampailah aku bertemu keluargamu, namanya Mba Lia, dan tinggal di Surabaya, memiliki 2 anak kecil yang menggemaskan, sungguh aku sayang mereka. mba Lia tak hentinya menanyakan apakah kita hanya berteman? dan aku jawab tentunya iya, karena kau hanya temanku dan aku tidak memiliki rasa cinta padamu.

minggu selanjutnya, lagi-lagi kau mengajakku, kali ini melihat rumah. tentu aku senang, karena aku suka jalan-jalan dan suka melihat property, kau bertanya banyak hal padaku, "apakah aku suka ini?" dan banyak menanyakan pendapat lainnya. aku yang tanpa curiga menjawab saja apa adanya.jika kau tanya apakah saat itu aku sudah cinta padamu? jawabannya aku masih belum memiliki rasa cinta padamu sama sekali. entah bagaimana dengan kamu.

Hari demi hari percakapan kita masih berlanjut via whatsapp, kau tak berhenti mengingatkan sholat, makan dll. dan masih juga, aku belum memiliki rasa padamu. hingga akhirnya aku termakan omongan teman, mereka bilang " mana mungkin laki-laki tanpa rasa mengajakmu bertemu saudaranya dan melihat-lihat rumah?" akhirnya kuputuskan untuk menanyakan maksudmu.
betapa terkejut, ketika kau mengatakan "maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku?" tentu aku kaget membaca whatsappmu, hatiku bimbang luar biasa, disatu sisi aku belum memiliki rasa, di sisi lain ada hal yang perlu kupikirkan ribuan kali, lalu "demi kebaikan" aku menerimamu.

esok harinya, kau mengajakku bertemu, dan mengatakan secara langsung perasaanmu, dan malam itu 24 Maret 2018 kita resmi pacaran serius hehe. masih ada ragu yang mengganjal pada diriku. tapi "demi kebaikan" aku akan lakukan apapun.

sayang... aku ingat betul, minggu selanjutnya kamu bilang ingin bertemu orang tuaku, dan mengatakan bahwa kau ingin serius denganku. rasanya aku terharu dan sangat bahagia, sebab untuk waktu yang singkat kamu mampu menunjukkan keseriusan. rasanya nano-nano ketika mendengar kau mengatakan hal itu, malam itu pukul 11 dirumahku, dan dihadapan kedua orang tuaku.
untuk diriku yang sulit mencintai, kamu berhasil membuatku jatuh cinta malam itu.

minggu selanjutnya kau kenalkan aku pada keluargamu, dan seketika aku mampu menyayangi mereka. terutama adik-adikmu. sungguh aku menyayangi mereka sampai detik ini

semakin hari, cinta tulusku semakin besar. hanya kamu satu-satunya laki-laki selain bapak dan adikku yang tulus aku cintai, semakin hari kau menunjukkan keseriusan dengan mengajakku ke Magelang, untuk bertemu dengan ibu, dan mba Linda. bahagiakah aku? sangat. ada banyak mimpi yang kita ukir sepanjang jalan Jogja-Magelang, dan satu hal yang masih terkenang "yang, nanti setiap tahun kita pulang kampunya ke Muntilan ya" dan dengan senyum termasimu mengatakan "iya"

sayang... Desember 2018 lalu, saat kita sudah tak bersama aku "pulang" ke Muntilan, bertemu ibu dan mba Linda, aku pergi naik motor. aku pergi sebab ada yang mengganjal di hati , tenyata aku tak afdol rasanya jika kesana tanpa mengunjungi ibu dan mba serta mas Aan. mas Aan masih ndut sayang, masih mirip dengan orang yang kita lihat di candi Borobudur yang membuat kita tertawa selama menaiki tangga candi" kau tau sayang, aku tak ingat jalan menuju rumah ibu, tapi aku pakai maps, dan kamu tau? tujuan mapsku kemana? yaitu ke KUA Muntilan, sebab tempat itu yang paling ku ingat, karena setiap pagi setelah sholat subuh, kita selalu jalan pagi melewati KUA itu, dan mengungkapkan mimpi atau sekedar celetukan darimu"yang, ayo nikah" hehehe

sayang, tau tidak? saat aku kembali ke Muntilan saat tak sudah tak bersamamu dan aku pergi sendirian, aku mengis di sepanjang jalan Jogja-Maagelang, sebab aku sangat rindu kamu, dan jalan itu menjadi saksi bahwa setiap hari, kita melewati itu.

Aku ingat betul belokan kidul yang membuat kita jatuh dari motor, sampai aku menangis sepanjang jalan karena khawatir padamu,  tapi akhir tahun lalu aku tidak kesana.  Sayang,  aku begitu cengeng,  seperti yang kamu tau. 

oh ya sayang... di jalan Malioboro kamu mendiamkan aku saat itu, sebab aku tak sengaja membentakmu karena salah paham. maaf 😔 aku hanya diam dan merasa bersalah. tahukan kau, diam-diam aku menangis di belakangmu, karena aku merasa bersalah. dan aku pun menangis pukul 3 pagi, sebab membaca sms dari papah untukmu, berapa kali aku menangis di sana. menangis karena merasa bersalah, menangis karena kau terluka, dan menangis karena aku sayang papa.

sayang... ku singkat saja ceritanya yah, sebab aku tak sedang ingin membuat novel

sayang... maaf aku menulis ini
maaf untuk rindu yang tak pernah pudar setelah saat itu kita pisah sampai detik ini
maaf jika sampai saat ini aku masih mencintaimu
tak tau sampai kapan, tapi kau tau betapa aku sulit mencintai
maaf juga karena aku terkadang suka menjambak rambutmu hehe
kapan kamu mau minta maaf sebab suka memencet hidungku? sakit tau 😖
sayang, aku ngga mau ke Jogja naik bus malam lagi. karena sekarang udah ngga ada kamu yang bisa aku repotin lagi hehe

sayang, selamat berbahagia
berjanjilah untuk tidak sepenuhnya melupakanku sebagai orang yang pernah dengan tulus mencintaimu
jadikan aku sebagai masa lalu yang indah

sayang....
maaf untuk segala kesalahan yang pernah kubuat
terima kasih untuk segala baikmu yang tak pernah ku lupa

tertanda...
aku yang pada detik masih mencintaimu...

Kata Dya "Ngga apa-apa mama"

Sedang di titik selalu sedih dan merasa bersalah  Pada sulungku yang selalu mengatakan "gapapa mama" Semakin tidak apa-apa, perasa...