Pernikahanku sudah 2 tahun 3 bulan, di tahun pertama adalah pembelajaran untukku, dan kini di tahun ke dua, aku dapat memetik hikmahnya.
di tahun pertama, egoku sangat tinggi, merasa bahwa jika memang mencintaiku, maka harus berkorban, aku hanya ingin di mengerti, secara emosional masih bergejolak.
tapi ditahun ke 2 ini, aku memetik hikmah "ternyata menikah memang seperti ini" yang berjuang bukan hanya suami, tapi aku juga harus.
Egoku mulai berkurang, aku mulai menerima jika ternyata menikah berarti berjuang bersama.
Kini, aku menemukan tujuanku
Aku tau harus berjuang untuk siapa, dan aku tau teman berjuangku adalah "Dia" suamiku
Memulai semuanya dari awal, dibantu orang tua
Kadang rasanya menyedihkan menjadi dewasa
Hanya dapat bersandar di pundak suami dan menangis untuk sesuatu yang kadang sulit aku terima
"Gini banget sih yang, sedih banget aku, kita ngga bisa langsung seneng aja gitu, ngga pake nabung dulu, susah-susah dulu kaya gini"
Mungkin ratusan kali aku mengeluh, tapi ratusan kali juga suamiku menyemangati
aku hanya butuh waktu untuk menerima segalanya
Rasa iri kadang muncul jika melihat kehidupan teman-teman sudah siap secara finansial
Merasa "kita dulu sekolah bersama, kuliah bersama" tapi bagaimana caranya bisa memiliki rumah dan banyak hal
setelah ku pikir panjang, pastinya mereka juga berjuang dengan keringat dan air mata, hanya saja tidak terlihat. lalu sebagian lagi, karena privilege orang tua.
apapun yang terjadi, aku bangga dengan orang tuaku, karena ternyata mereka pun mempersiapkan banyak hal untuk anak-anaknya
aku bangga terhadap suamiku, karena tidak lelah menyemangati princes manja ini hingga menyadari bahwa menikah harus berjuang bersama
ini tidak mudah, tapi akan indah pada waktunya.
Aku yang tadinya berfikir bahwa wanita memiliki posisi tersulit dalam pernikahan
Terkadang harus memilih untuk tetap berkarir atau hanya mengurus keluarga dengan bebannya masing-masing
Disatu sisi memikirkan keluarganya, dan memikirkan orang tuanya yang sudah tidak bekerja, jika bukan dari sang anak, maka dari siapa lagi.
Tapi aku membaca sebuah kalimat "laki-laki hidup untuk menghidupi"
Lagi, pelajaran yang dapat ku petik tentang pernikahan, suami ataupun istri bukan tentang siapa yang paling menderita, bukan hanya saya , tapi ternaya dia juga.
Semoga pernikahan ini abadi
Mari berjuang bersama
Menyiapkan warisan terbaik untuk anak-anak kita
Tertanda
Istrimu yang mulai dewasa