Selasa, 03 Desember 2024

Setelah 2 Tahun

Pernikahanku sudah 2 tahun 3 bulan, di tahun pertama adalah pembelajaran untukku, dan kini di tahun ke dua, aku dapat memetik hikmahnya. 
di tahun pertama, egoku sangat tinggi, merasa bahwa jika memang mencintaiku, maka harus berkorban, aku hanya ingin di mengerti, secara emosional masih bergejolak.

tapi ditahun ke 2 ini, aku memetik hikmah "ternyata menikah memang seperti ini" yang berjuang bukan hanya suami, tapi aku juga harus. 
Egoku mulai berkurang, aku mulai menerima jika ternyata menikah berarti berjuang bersama.

Kini, aku menemukan tujuanku
Aku tau harus berjuang untuk siapa, dan aku tau teman berjuangku adalah "Dia" suamiku

Memulai semuanya dari awal, dibantu orang tua
Kadang rasanya menyedihkan menjadi dewasa
Hanya dapat bersandar di pundak suami dan menangis untuk sesuatu yang kadang sulit aku terima

"Gini banget sih yang, sedih banget aku, kita ngga bisa langsung seneng aja gitu, ngga pake nabung dulu, susah-susah dulu kaya gini" 

Mungkin ratusan kali aku mengeluh, tapi ratusan kali juga suamiku menyemangati
aku hanya butuh waktu untuk menerima segalanya 

Rasa iri kadang muncul jika melihat kehidupan teman-teman sudah siap secara finansial
Merasa "kita dulu sekolah bersama, kuliah bersama" tapi bagaimana caranya bisa memiliki rumah dan banyak hal

setelah ku pikir panjang, pastinya mereka juga berjuang dengan keringat dan air mata, hanya saja tidak terlihat. lalu sebagian lagi, karena privilege orang tua. 

apapun yang terjadi, aku bangga dengan orang tuaku, karena ternyata mereka pun mempersiapkan banyak hal untuk anak-anaknya
aku bangga terhadap suamiku, karena tidak lelah menyemangati princes manja ini hingga menyadari bahwa menikah harus berjuang bersama
ini tidak mudah, tapi akan indah pada waktunya. 

Aku yang tadinya berfikir bahwa wanita memiliki posisi tersulit dalam pernikahan
Terkadang harus memilih untuk tetap berkarir atau hanya mengurus keluarga dengan bebannya masing-masing
Disatu sisi memikirkan keluarganya, dan memikirkan orang tuanya yang sudah tidak bekerja, jika bukan dari sang anak, maka dari siapa lagi. 

Tapi aku membaca sebuah kalimat "laki-laki hidup untuk menghidupi" 
Lagi, pelajaran yang dapat ku petik tentang pernikahan, suami ataupun istri bukan tentang siapa yang paling menderita, bukan hanya saya , tapi ternaya dia juga. 

Semoga pernikahan ini abadi
Mari berjuang bersama 
Menyiapkan warisan terbaik untuk anak-anak kita 

Tertanda
Istrimu yang mulai dewasa 



Jumat, 23 Agustus 2024

Sudah Hampir Satu Tahun

Anakku kini berusia 11 bulan 
Aku sedang berada di fase mersa bersalah
Karena setiap pagi, disaat ia masih ingin memelukku dengan manja, aku hentikan semua aktifitas itu untuk bersiap agar kami pergi kerumah nenek
Mengejar waktu agar aku tidak terlambat ke tempat kerja

Sejak usia 2 bulan, sampai saat ini aku masih melakukan itu. Dan sungguh aku keterlaluan 
Sesekali ku biarkan dirinya memelukku lebih lama dari biasanya
Tak kupaksakan anakku bersiap untuk segera berangkat
Ku biarkan waktu terus berjalan tanpa mempedulikan keterlambatanku di tempat kerja

"Aku menyadari bahwa ini yang ia inginkan"

Seringkali perasaan ingin berhenti itu muncul
Tapi ku sadari, bahwa aku bekerja bukan untuk diriku sediri
dan jika bukan aku, siapa lagi
waktunya masih sangat panjang sampai si bungsu semakin besar dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri

Aku ingin memberi lebih pada anakku, agar kelak ia besar semua sudah terpenuhi dan perjuangannya tidak dari awal
Tapi yang terberat adalah dengan mengorbankan setiap fase tumbuh kembangnya

Apa aku sudah menjadi ibu yang baik?

Bulan depan usianya 1 tahun
Maka 1 tahun juga perjuangannya bersamaku 
Maaf jika mama tidak selalu bersamamu



Selasa, 05 Maret 2024

Sudah Jadi Ibu

Baru menulis lagi di sela waktu luang

Pernikahanku sudah 1 tahun, dan kado terindahnya adalah kamu "Anakku", ku namai dirimu "Hanindya Faranisa" karena aku ingin kamu menjadi wanita yang selalu bahagia dan penuh kasih sayang. 

Aku sedang menikmati 2 bulan lebih menjadi seorang ibu, ternyata begini ya hehe. sesekali aku mendengar perkataan bahwa "walau sudah jadi ibu, kita tetap membutuhkan ibu" benar saja. Tidak ada yang benar-benar tulus membantumu kecuali ibu.

Menjadi ibu rasanya campur aduk, ternyata aku mengalami baby blues yang ku pikir tidak akan pernah merasa demikian, aku melahirkan secara caesar dengan segala pro dan kontranya. Tapi mama dan suamiku tidak masalah, berarti akan baik-baik saja. Aku hanya perlu menutup telinga dari orang-orang yang menilai buruk tentang kelahiran SC, padahal sakitnya 2 kali lipat. 
Melahirkan normal maupun caesar "Aku tetap seorang ibu! dan anakku akan memanggilku mama" 


Kata Dya "Ngga apa-apa mama"

Sedang di titik selalu sedih dan merasa bersalah  Pada sulungku yang selalu mengatakan "gapapa mama" Semakin tidak apa-apa, perasa...